Kronologi Kejadian Dua Anak Asuh Yaketunis Berdua Pergi ke Mojokerto

Sore hari (25 Agustus 2026), SBA meminta izin pada pengurus dengan alasan keluarga meninggal di Lampung dan akan dijemput orang tuanya di Solo. Pengurus awalnya hendak memesankan ojek, tetapi ditolak dengan alasan akan ke halte Trans Jogja untuk menuju terminal Giwangan.

Malam harinya, OOS tidak ada di asrama. Tidak ada teman yang dipamiti. Kami hubungi OOS tidak ada respon, lalu kami hubungi orang tua OOS. Kami tidak bisa hubungi kedua orang tua SBA karena tidak memiliki HP.

Paginya, kami koordinasi dengan sekolah OOS, tidak ada izin yang disampaikan ke wali kelas. Demikian juga dengan SBA. Kami mencoba menelusuri kontak pihak keluarga SBA yang lain melalui wali kelas SBA. Setelah dihubungi, ternyata tidak ada keluarga yang meninggal di Lampung. Pihak sekolah OOS dan orang tua OOS terus mencoba menghubungi tetapi tidak mendapat respon padahal HP aktif.

Siang harinya (pukul 13.00), akhirnya OOS berkenan mengangkat telepon dari orang tua dan menyampaikan bahwa posisinya di Dinsos Mojokerto. Kami mengetahui berita tersebut dari orang tua, bukan dari berita yang viral. Orang tua memberi kontak dinsos kepada ibu asrama sehingga asrama bergerak cepat menghubungi dan menceritakan kronologi tersebut ke Dinsos Mojokerto dan Dinsos Yogyakarta. Kami terus mengikuti arahan yang diberikan oleh Dinsos Mojokerto.

Esok harinya, melalui rapat pengurus asrama dan sekolah serta koordinasi dengan Dinsos, kami menuju ke rumah SBA. SBA dijemput oleh orang tua dari Dinsos Mojokerto ke rumah di Wonogiri. Kami memastikan permasalahan SBA dan OOS apakah ada bullying sebagaimana yang dimaksudkan. Hasilnya, tidak ada kasus perundungan di lingkungan asrama maupun sekolah kedua murid yang bersangkutan.

Narasi yang beredar luas bersumber dari pemahaman keliru SBA yang mengartikan dinamika komunikasi sebaya dan teguran kedisiplinan asrama sebagai perundungan, semata-mata karena ketersinggungan personal.

Berdasarkan investigasi menyeluruh serta kesaksian dari teman-teman satu asrama maupun teman sekolah dari kedua murid tersebut, tidak pernah terjadi kekerasan fisik, verbal, maupun penindasan sistematis.

Saat ini, OOS sedang dalam proses penjemputan oleh pihak keluarga bersama Dinsos Brebes ke Dinsos Mojokerto. Terkait berita yang viral, kami mencoba tabayyun ke pemilik akun terkait untuk menjelaskan kronologi dari sudut pandang kami. Pemilik akun mengarahkan agar menghubungi Dinsos Mojokerto (yang mana ini sudah kami lakukan sebelum berita diviralkan).

Kami belum dapat melakukan klarifikasi langsung tanpa asesmen lanjutan. Klarifikasi ini dibuat atas saran dan dukungan dari alumni karena berita yang semakin memanas di berbagai media.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top